RSS

Filosofi Mendalam di Balik Jajanan Tradisional yang Tak Pernah Kamu Ketahui

10 Sep

Dicopas tanpa basa-basi dari sini

Sudah tidak terasa lebaran meninggalkan kita cukup lama. Ingin sekali rasanya kembali ke masa di mana semua orang saling memaafkan dan senyum anak-anak yang merekah gara-gara kebanyakan uang. Hal yang paling diingat juga tentu saja adalah jajanan khas lebaran yang bikin kangen. Mulai dari ketupat, lontong, lemper dan sebagainya. Sebisa mungkin kita tetap mempertahankan penganan tradisional ini. Bukan hanya karena budaya tapi juga makna yang terkandung di dalamnya.

Benar sekali, siapa yang menyangka jika deretan makanan khas di atas ternyata tak hanya menggoda lidah, tapi juga berisi filosofi yang sangat dalam. Tak percaya? Silahkan tanyakan ke orang-orang tua di sekitarmu sambil membaca ulasannya berikut.

1. Lontong “Olo e Dadi Kotong

Siapa yang tak kenal dengan makanan satu ini? Ia bisa disajikan dengan berbagai cara. Mulai dikombinasikan dengan rujak, bakso, soto dan sebagainya. Teksturnya yang lembut membuatnya jadi bahan pengganti nasi yang tak kalah lezatnya. Kalau dilihat dari sejarahnya, lontong sudah dibuat oleh orang-orang tua kita sejak zaman dulu. Uniknya, tak hanya berkreasi saja dengan membungkus beras dengan daun pisang, mereka juga menyematkan satu filosofi yang dalam di makanan ini.

Lontong menurut orang Jawa punya filosofi “olo e dadi kotong” atau dalam bahasa Indonesianya, kejelekannya sudah tidak ada atau hilang. Filosofi ini erat kaitannya dengan bulan Ramadhan. Seperti yang kita tahu, selama di bulan suci itu umat islam akan dilebur dosa-dosanya setelah sebulan berpuasa. Hingga akhirnya kembali suci dan fitrah, sehingga dijuluki dengan “olo e dadi kotong”.
Meskipun tak harus dimakan setelah bulan puasa, lontong silahkan kamu nikmati kapan saja. Namun kali ini jangan lupa, jika lontong tersebut adalah representasi dari dosa yang telah dihilangkan. Jadi, mudah-mudahan bisa jadi pengingat yang baik agar kita selalu bertaubat agar terampuni semua dosa-dosa.

2. Lepet “Elek e Disimpen Sing Rapet”

Lepet memang marak di hari lebaran meskipun kamu juga bisa menemui makanan ini di kedai kue tradisional. Lepet adalah jajanan yang terbuat dari beras ketan yang bagian dalamnya biasanya terdapat kacang merahnya. Lepet bisa dibungkus dengan daun pisang atau bisa dengan janur muda.

Sama seperti lontong, lepet juga punya filosofinya sendiri, yakni “elek e disimpen sing rapet” atau bisa diartikan kejelekannya sendiri disimpan rapat-rapat. Kejelekan adalah aib yang sebisa mungkin jangan pernah diumbar. Namun di zaman sekarang ini yang semuanya serba terbalik, orang-orang malah bangga dengan kejelekannya. Misalnya bangga ketika menang judi, lotre dan sebagainya. Ketika mengunyah ketan dan kacangnya yang lembut, lepet akan terus menerus mengingatkanmu agar selalu bisa menjaga kejelekan sendiri.

3. Lemper “Yen Dilem Atimu Ojo Memper”

Lemper adalah jajanan primadona yang selalu ada dalam setiap acara besar. Mulai dari khitanan, resepsi nikah, sampai bungkusan pengajian. Rasanya memang tiada duanya dan Indonesia banget. Lemper terbuat dari ketan yang di dalamnya terdapat isiannya, mulai abon sampai daging ayam. Penyajiannya biasanya menggunakan daun pisang muda yang warnanya hijau terang.

Lemper juga punya filosofi yang sangat bagus, “yen dilem atimu ojo memper” yang artinya ketika dipuji maka hatimu jangan sombong atau berbangga diri. Ya, kadang memang demikianlah yang terjadi sekarang. Ketika pujian malah bukan jadi suatu pelajaran justru menumbuhkan rasa kebanggaan berlebihan. Merasa sombong dan menganggap orang lain tidak ada apa-apanya. Ketika memakan kudapan satu ini kamu juga bisa mengartikan jika di atas dirimu yang sudah hebat itu, masih ada lainnya yang lebih jago lagi. Lemper memang kue sederhana dan gampang dibuat tapi esensi di dalamnya sangat luas.

4. Ketupat/Kupat “Ngaku Lepat”

Kupat atau ketupat ini adalah makanan yang ikonik dengan selebrasi lebaran. Meskipun sebenarnya tak jauh beda dari lontong, namun bentuk kupat yang unik membuatnya tetap berbeda. Seperti yang kamu tahu, kupat dibuat dengan cara memasukkan beras ke dalam anyaman janur dan kemudian dikukus. Meskipun bisa dimakan dengan apa pun, tapi pasangan sejati ketupat cuma opor ayam dan gulai.

Tahu kah kamu kenapa kupat umumnya hanya ada di hari lebaran saja? Idul Fitri identik dengan maaf memaafkan dan makanan yang paling representatif untuk menggambarkan hal tersebut adalah kupat. “Ngaku lepat” adalah filosofi di balik makanan ini yang bisa diartikan mengakui kesalahan. Makanya, ketupat hanya afdol dimakan ketika satu sama lain saling meminta maaf dan mengakui kesalahan.

5. Apem – Afwun (Bahasa Arab)

Apem sangat sering dijumpai dalam acara-acara tradisional dan biasanya jadi salah satu pengisi kotak-kota kue yang dihantarkan. Makanan ini bisa dibilang mirip surabi namun bentuknya lebih bulat serta padat. Rasanya manis dan kadang ditambahkan beberapa buah-buahan seperti nangka. Cara membuatnya dengan menuangkan adonan apem ke semacam cetakan yang berisi bulatan-bulatan. Hal ini menyebabkan apem putih bagian atasnya namun agak hitam dan crispy di bawah.

Apem juga jajanan lawas yang mungkin sudah dibuat beratus tahun lalu. Apem sendiri mengandung arti “Afwun” dalam bahasa Arab yang bisa diartikan sebagai maaf. Jadi, dulu orang-orang tua sengaja memberi tetangga mereka apem ini dengan tujuan meminta maaf. Makanya apem rasanya manis karena mengandung arti manisnya kata-kata maaf itu sendiri.

6. Kolak – Mengingatkan Kematian dan Anjuran Meminta Maaf

Ngabuburit paling pas berburu kolak untuk dinikmati setelah adzan magrib. Kolak biasanya terdiri dari umbi-umbian, mulai dari singkong sampai ketela. Kadang juga ditambah kacang hijau, labu dan buah manis seperti nangka atau pisang. Satu lagi bahan yang juga tidak boleh ketinggalan ketika membuat kolak yakni santan. Setelah bahan tercampur maka tinggal ditambahkan gula atau gula merah.

Quote:

Sama seperti deretan makanan di atas makanan ini juga mengandung filosofi bahkan dua arti sekaligus. Kolak biasanya terdiri dari umbi-umbian pendam yang bahasa Jawanya disebut “polo pendem”. Hal ini mengingatkan kita kalau pada akhirnya setiap manusia akan dipendam atau dikubur. Maka sebelum hal tersebut terjadi, maka berbuat baik, lakukan kewajiban dan juga pahami filosofi santan.

Santan atau biasanya disebut santen mengandung arti “sing salah nyuwun ngapunten” yang artinya adalah siapa pun yang bersalah haruslah meminta maaf. Selain amal, maaf adalah hal yang kita butuhkan saat mati. Ketika seseorang ikhlas memaafkan kita, maka kematian pun akan jauh lebih mudah. Seperti sudah tidak ada beban lagi, lebih-lebih ketika menjalani kehidupan setelah kematian.

Siapa yang menyangka jika deretan makanan di atas tak cuma jadi sajian lezat menggugah selera saja, tapi juga mengandung arti yang sangat dalam. Ya, mungkin ini salah satu cara orang-orang tua untuk mengingatkan kepada anak turunannya agar selalu berbuat baik. Ini juga jadi bukti jika orang tua dulu adalah pemikir yang hebat. Bahkan kita mungkin tidak kepikiran untuk menamai makanan yang lengkap dengan filosofinya seperti ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 10, 2015 in Lainnya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: